Rumah Adat Maluku Utara

Maluku Utara merupakan salah satu provinsi baru di Indonesia dan umumnya disingkat sebagai “Malut”. Maluku Utara merupakan gabungan dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Ibukotanya terletak di Sofifi, Kecamatan Oba Utara sebagai pengganti Ternate, yaitu ibukota sementara Maluku Utara selama 11 tahun hingga infrastruktur Sofifi memadai. Maluku Utara terbagi kedalam 7 kabupaten dan dua kotamadya, yakni Kabupaten Halmahera Barat, Selatan, Tengah, Timur, Serta Halmahera Utara dan kabupaten Pulau Morotai. Sedangkan Kotamadya yang ada yaitu Ternate dan Tidore. Provinsi Maluku Utara sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah timur dengan Laut Halmahera, sebelah barat dengan Laut Maluku, dan sebelah selatan dengan Laut Seram.

Maluku Utara memiliki dua macam rumah adat yang menjadi ciri khas kota Maluku Utara yaitu rumah adat Sasadu yang berasal dari Halmahera Barat. Sedangkan pada tahun 2007 dibangun rumah adat Hibualamo yang berada di Halmahera Utara.

Rumah adat Sasadu merupakan rumah adat yang diwariskan oleh leluhur suku Sahu di Pulau Halmahera Barat, Maluku Utara. Sasadu berasal dari kata Sasa – Sela – Lamo atau besar dan Tatadus – Tadus atau berlindung, sehingga Sasadu memiliki arti berlindung di rumah besar. Rumah adat Sasadu memiliki bentuk yang simpel atau sederhana yaitu berupa rumah panggung yang dibangun menggunakan bahan kayu sebagai pilar atau tiang penyangga yang berasal dari batang pohon sagu, anyaman daun sagu sebagai penutup atap rumah adat dan memiliki dua pijakan tangga terletak di sisi kiri dan kanan.

Pada rumah adat Sasadu terdapat dua ujung atap kayu yang diukir dan memiliki bentuk haluan dan buritan perahu yang terdapat pada kedua ujung atap. Bubungan tersebut melambangkan perahu yang sedang berlayar karena suku Sahu merupakan suku yang suka berlayar mengarungi samudera. Selain itu pada bubungan atapnya digantungkan dua buah bulatan yang dibungkus ijuk. Bulatan itu menggambarkan simbol dua kekuatan supranatural yaitu kekuatan untuk membinasakan dan kekuatan untuk melindungi.

Rumah adat Sasadu tidak memiliki pintu dan sisi-sisinya tidak memiliki dinding penutup. Untuk memasuki rumah adat Sasadu terdapat 6 jalan masuk sekaligus jalan keluar. Setiap jalan diperuntukkan untuk orang-orang tertentu. Dua jalan masuk dan keluar khusus untuk perempuan, dua jalan khusus untuk lelaki, dua jalan khusus untuk para tamu.

Suku Sahu merupakan suku yang menjunjung tinggi dan sangat menghargai penduduk wanitanya. Hal ini ditunjukkan pada bagian dalam rumah adat Sasadu. Selain terdapat dego-dego (dipan bambu) untuk duduk, pada bagian dalam ruangan tersedia dua buah meja, dimana satu meja khusus untuk perempuan di letakan pada bagian depan dan sedangkan satu meja yang diperuntukan bagi laki-laki di letakan pada bagian belakang. Penempatan meja perempuan pada bagian depan dapat diartikan bahwa bagi suku Sahu wanita akan didahulukan dan laki-laki akan selalu melindunginya dari belakang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s